Menjadi Penggerak Cultural Change

Pandemi mengubah banyak hal. Termasuk perubahan yang sangat signifikan Di sinilah kita perlu belajar menjadi penggerak cultural change. Ini penting agar kita bisa tetap produktif.

Suka tidak suka pandemi Covid-19 membuat fenomena bernana gegar budaya alias cultural shock. Gegar budaya merupakan hal yang selalu dan hampir pasti terjadi dalam adaptasi. Jadi secara umum masih bisa diprediksi. Meskipun dampak pandemi ini tidak sepenuhnya dapat diprediksi dengan tepat. Tergantung pada kemampuan dan faktor–faktor dalam menghadapi gegar budaya.

Gegar budaya adalah

Gegar budaya (cultural shock) juga disebut keterkejutan budaya. Ini merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kegelisahan dan perasaan yang dirasakan olleh seseorang yang tinggal di dalam kebudayaan yang berlainan sama sekali.

Pandemi memaksa semua orang meninggalkan dunia nyamannya. Harus memasuki dunia baru bernama kegiatan serba online.

Di satu sisi hal ini sangat bagus. Di sisi lain banyak yang tak siap dan tersesat.

Masih ingat awal dipaksa bekerja di rumahh, belajar di rumah, dll. Perasaan memasuki dunia baru dan kerinduan akan dunia lama menumbuhkan perasaan gegar budaya ini.

Cultural change

Cultural change adalah istilah kebijakan pemerintah dlm menekankan modal budaya. Kaitannya dengan topik kali ini adalah sebuah ajakan untuk melakukan perubahan dari yang paling dekat. Lebih tepatnya dinamakan Adaptasi Kebudayaan Baru.

Perubahan budaya (culture change) berbeda dengan perubahan sosial (social change). Perubahan sosial merupakan perubahan dalam segi struktur sosial dan hubungan sosial. Ini ebda dengan perubahan budaya yang mencakup perubahan dalam segi masyarakat.

selain ketujuh kiat tersebut, ada satu hal yang juga cukup penting untuk dilakukan, yakni dengan menjadi penggerak cultural change. Mengapa hal ini diperlukan? Manusia pada dasarnya cenderung menolak perubahan secara drastis dan tiba-tiba, terlebih pada saat krisis. Bekerja dari rumah atau sistem bekerja jarak jauh adalah sebuah proses, yang bagi sekelompok orang mungkin terasa sangat sulit untuk dilakukan. Namun, dengan adanya pandemi ini kita “dipaksa” untuk dapat beradaptasi dengan perubahan itu. Hal ini terutama berlaku bagi para pegawai di lingkungan instansi pemerintah yang memiliki kultur in-office yang begitu kuat. Kita harus bisa menjadi penggerak cultural change pada masa pandemi ini agar instansi pemerintah dapat lebih lentur dalam menghadapi situasi apapun.

Tinggalkan komentar