Tak Punya Uang, Mengapa Harus Kuliah?

Dunia terus berevolusi. Ilmu berkembang. Upgrade terjadi kapan saja. Jika kamu memutuskan berhenti sekolah, maka kamu harus punya kemampuan untuk mengejar kecepatan gerak perubahan.

Itu beberapa alasan mengapa aku memberi wasiat pada anak-anak bahwa apapun yang terjadi, mereka harus kuliah. Lucunya aku tidak memberi mereka tuntutan untuk lulus dengan cepat jika belum menemukan kunci masa depan mereka.

Sobat Bumi Kopi mungkin menganggapnya aneh. Kami memang membebaskan anak untuk memilih masa depan mereka. Kami sejak kecil sudah memberi pondasi semampunya. Untuk selanjutnya kami secara perlahan melepas peran sebagai helper. Sekarang kami supervisor. Mereka memilih sendiri, kami mengawasi. Tugas sebagai donatur utama masih kami pegang sampai mereka dapat membiayai hidup sendiri di kampus.

Aku dan ayahnya anak-anak pernah menjadi mahasiswa mandiri yang hanya menerima uang saku Rp50.000,- sementara teman kami mendapat uang saku minimal Rp300.000,- sampai Rp600.000,-

Uang saku minimalis tak mengurangi kami serius belajar. Aku jadi mahasiswa dengan nilai tertinggi di kelas. Suami termasuk pandai. Kami menginap di ruang ekstrakurikuler masing-masing agar irit dan biasa makan bersama dengan cara kepungan. Anehnya kami baru ketemu dan kenalan sore hari sebelum wisudaku. Amazing? Nggak juga. Kami beda kampus. Kamu bisa menemukan banyak kisah kami di Catatan Ibu yang Tidak Sempurna.

Tak Punya Uang? Ada solusinya

Setiap negara mengharapkan warganya punya pendidikan tinggi. Kita dituntut oleh zaman dan tuntutan dunia, lebih besar daripada sebelumnya. Pemerintah harus menyiapkan pendidikan yang kokoh. Pendidikan yang menjadi dasar keterampilan dan pengetahuan bagi warganya.

Ada banyak alternatif yang tersedia untuk tetap dapat kuliah sampai saat ini. Ada banyak beasiswa dan bantuan penelitian. Jika kamu suka menulis, maka separuh investasimu untuk sukses dan dapat kuliah sudah di tangan. Memang akan butuh banyak begadang, tapi ada cara agar begadang tetap sehat.

Ada beberapa narablog yang masuk ke kampus terkenal secara gratis karena ia aktif mengisi blognya sejak SMP. Saat SMA ia menjadi ahli menulis bahkan sering menang lomba menulis. Tak heran jika ia langsung dapat tiket emas kuliah di sana.

Bahkan senang menulis pun bisa “diuangkan”, dengan cara ikut lomba-lomba yang diadakan oleh kampus, pemerintah maupun pihak luar kampus. Setiap hari ada ratusan lomba yang dapat diikuti.

Mengapa harus kuliah?

Kuliah selama empat tahun adalah standarnya. Setidaknya kurikulumnya memang dibuat untuk empat tahun. Realisasinya? Bisa kurang dari itu. Banyak juga yang lebih dari itu. Berapapun jumlah tahun yang dilewati, berikut 4 manfaat yang kamu dapatkan jika menyelesaikan kuliah.

1. Uang.

Di tempat kerja yang sama, lulusan kuliah bisa mendapatkan gaji yang lebih tinggi daripada tetap bertahan sebagai lulusan SMU. Kasus terbalik jika ada, berkaitan dengan senioritas dan pengalaman. Atau malah nepotisme. Dalam kasus normal, sarjana akan digaji lebih tinggi daripada pegawai nonsarjana.

Ijazah universitas secara substansial meningkatkan potensi penghasilan. Ini juga alasan banyak pegawai senior yang mengambil universitas terbuka setelah bertahun-tahun bekerja.
Hal semacam ini mungkin akan sulit dimengerti oleh anak usia belasan yang masih belajar di sekolah menengah. Wajar saja, karena belum berurusan dengan aneka tagihan dan beban yang dihadapi oleh banyak orang dewasa. Memang cukup sulit untuk menjelaskan betapa pentingnya memiliki keunggulan di bidang pendidikan jika dihubungkan dengan kemampuan menghasilkan uang.

2. Asuransi dan investasi

Agak aneh memang, jika memasukkan asuransi dan investasi dalam alasan mengambil kuliah. Tapi sejauh kelayakan kerja, maka pendidikan universitas adalah asuransi dan investasi terbaik yang bisa kamu ambil.

Memiliki gelar universitas memberimu keunggulan dalam kompetisi pencarian kerja daripada yang tidak. Kampus memberi lebih banyak pengalaman. Akan makin banyak jika kamu menjadi mahasiswa yang aktif dan bersedia menciptakan jaringan dengan berbagai pihak yang dapat memperkaya cakrawala.

Banyak kampus sekarang ini didesain untuk memberikan keterampilan yang sangat spesifik. Namun pada dasarnya universitas modern biasanya memberikan paparan singkat untuk semua jenis informasi dan kursus, yang kadang tidak berkaitan dengan jurusan yang kamu ambil. Ini memberikan lulusannya memiliki pemahaman yang lebih luas tentang dunia yang akan dijejakinya. Setidaknya begitulah visi-misinya.

Kelayakan kerja.

Percaya atau tidak, calon pegawai yang memiliki gelar sarjana jauh lebih dapat kerja daripada calon yang tidak memiliki gelar. Memang, pernah ada suatu masa ketika dunia kerja cenderungan lebih mengutamakan calon pegawai yang punya pengalaman daripada mereka yang memiliki ijazah.

Namun perusahaan lebih membutuhkan pegawai yang mudah dalam memasuki semua lini dan cepat memahami tantangan. Tak ada jalan lain selain kembali melirik sarjana yang lebih mampu memenuhi tuntutan tersebut. Lulusan universitas lebiih mudah beradaptasi.

Itulah sebabnya tren ini cepat bergeser. Kamu adalah kandidat terbaik jika punya pendidikan tinggi dan pengalaman yang kaya. Jika hanya bisa satu,s setidaknya pilihlah pendidikan dulu sebagai yang utama karena pengalaman tidak selalu berarti mengalami sendiri. Pengalaman orang bisa ditransfer menjadi pengalamanmu jika kamu tahu bagaimana mengolahnya. Otak cerdas mahasiswa lebih baik dalam melakukannya.

4. Kepercayaan diri

Mempunyai pendidikan tinggi di universitas adalah salah satu cara untuk membangun kepercayaan diri. Kepercayaan diri sekaligus kepercayaan pada tingkat profesional.

Entah kamu sadar atau tidak tentang hal ini. Percaya diri sering menjadi alasan terbaik untuk mengejar gelar sarjana. Alasan ini menjadi kunci bagi 3 manfaat di atas.

Rasa percaya diri pada kemampuan diri membuatmu dapat berkembang dengan pesat di lingkungan kerja. Kamu tahu apa yang kamu inginkan dan bagaimana mendapatkannya. Kamu bisa dengan cepat menyelesaikan pekerjaan, memajukan perusahaan, mendapatkan gaji dan bonus yang besar, dan kamu menjadi aset penting bagi perusahaan.

Kesimpulan

Kuliah tidak selalu membutuhkan uang yang banyak, tapi kuliah jelas memberikanmu lebih banyak uang. Kuliah dengan kondisi keuangan yang payah masih bisa disiasati dengan berbagai cara. Banyak mahasiswa miskin yang tetap dapat menyelesaikan kuliahnya dengan nilai yang sangat baik.

Setidaknya kuliah memberikanmu banyak pengalaman dari paparan dosen di kampus. Kampus didesain untuk menciptakan pekerja yang adaptif dan percaya diri. Semua ini, dapat terjadi jika kamu memilih jurusan dengan bijak.

Jika uang adalah motivasi utamamu memasuki gerbang kampus, maka pilih jurusan yang memang ‘basah’. Tidak semua karir membayar sama jika dibandingkan dengan pendidikan yang dibutuhkan untuk memasukinya.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Tinggalkan komentar